Janji
Ujaran dalam agama menyebutkan, janji adalah hutang. Jadi ibarat sebuah hutang, janji haruslah dilunasi, karena jika tidak, maka dia akan menjadi dosa.
Terkadang mudah sekali kita berjanji tapi rasanya berat sekali untuk menepati. Contohnya, saya berjanji A pada si B, lalu dengan gampangnya pula saya melanggar janji itu dengan beragam alasan yang, kadang jujur, dan kadang dibuat logis saja supaya terkesan jujur sehingga B tidak sadar bahwa sebenarnya saya telah berbohong. Bahwa saya sesungguhnya malas menyanggupi janji yang pernah saya lontarkan kepadanya dan saya menutupi kemalasan saya itu dengan alasan yang begitu cantik sehingga si B tidak terlalu sakit hati.
Mungkin saya merasa bisa berdamai karena toh si B tidak tersinggung dan kita tetap berteman seperti biasa. Dan besok-besok bisa jadi saya berjanji lagi kepada si B, yang bisa jadi juga saya lunasi namun bisa pula saya langgar dengan alasan yang sama cantiknya dengan kemarin dan B tetap saja percaya sama saya.
Ya, B tetap mau mempercayai omongan saya.
Pernahkah ada melakukan hal seperti itu kepada teman Anda, atau siapa saja yang hubungannya cukup dekat dengan Anda?
Jujur saja, saya pernah, bahkan sering.
Terkadang kita berpikir menepati janji adalah upaya menjaga kepercayaan orang lain kepada kita. Maka jika kita tidak bisa menepati janji dengan alasan yang sebenarnya nggak logis-males, misalnya-kita ciptakan saja sebuah alasan yang logis supaya orang tetap percaya sama kita. Betul, nggak? Kita melakukan ini begitu sering, kadang di kantor, kadang di rumah sendiri kepada isteri dan anak, kadang di kampus sama mahasiswa, atau yang mahasiswa sama temennya sendiri. Dan karena kita sering melakukannya akhirnya kita menganggap perbuatan itu sebagai “biasa” yang akhirnya menjadi bagian dari etika kita dalam berperilaku sehari-hari.
Sekarang, bagaimana kalau kita membalikkan pikiran itu kepada diri kita sendiri. Kita berkaca pada cermin dan bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku bertindak jujur kepada diriku?
Ketika kita mencederai janji dengan gampang, sebenarnya kita sedang mengkhianati diri sendiri. Dan mengkhianati diri sendiri bisa bermakna mengingkari nurani. Saya pernah mengalami ini, saat saya hendak mencederai sebuah janji, terdapat pertentangan dalam batin antara ya dan tidak. Ya berarti: “Ya! Langgar saja janjimu, toh si B nggak akan marah” dan tidak berati:”Jangan, kamu kan udah janji ama dia.Ditepati, dong! Lagian masalahmu cuma males aja, ya ‘kan?”
Pertarungan berat itu akhirnya dimenangkan oleh Ya. Dan tanpa saya sadari sesungguhnya saya bukan saja sudah membohongi si B, tapi juga mengkhianati nurani sendiri.
Jika kita membawa hal ini lebih dalam, maka kita mungkin akan bertanya pula, sejauh mana sebenarnya penghargaan kita kepada sahabat kita atau siapa saja yang janjinya kita khianati dengan mudah? Kita manusia pinginnya selalu dihargai; omongan kita didengar, keberadaan kita diakui, prestasi kita dihargai, harga diri kita dihormati. Tapi jika urusannya bagaimana menghargai, menghormati dan menjaga perasaan orang lain, kita sering kedodoran.
So, semuanya memang tergantung apakah kita mau mengikuti nurani atau tidak. Menepati janji sebisa mungkin berarti kita jujur pada diri sendiri dan orang lain,sementara melanggar janji seenaknya berarti kita mengkhianati diri sendiri dan melecehkan orang lain tidak perduli apakah orang itu sadar atau tidak bahwa sebenarnya ia sudah dilecehkan.